Demokrasi Indonesia mengalami pengeroposan yang membuat peran warga kian melemah. Warga sering direduksi hanya sebagai objek atau konsumen politik, padahal sejatinya mereka adalah ko-kreator demokrasi. Karena itu, demokrasi perlu dipahami sebagai tatanan yang dibangun melalui kerja publik yang memungkinkan warga negara terlibat aktif dan sadar akan tanggung jawabnya. Buku ini menegaskan pentingnya pendidikan publik—baik formal maupun informal—untuk membentuk kompetensi berdemokrasi. Warga yang terdidik akan mampu menilai informasi secara kritis, memahami persoalan dari beragam perspektif, menyelesaikan masalah secara damai, serta memiliki empati dan kepedulian terhadap kepentingan bersama. Kebijakan pendidikan, kurikulum, dan kegiatan ekstrakurikuler perlu dirancang untuk menumbuhkan kemerdekaan berpikir, kemampuan analisis, dan kepekaan sosial, dengan merujuk pada nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pada saat yang sama, pendidikan berbasis komunitas di akar rumput—bagi anak jalanan, perempuan desa, dan petani— menjadi fondasi penting untuk memberdayakan kelompok terpinggirkan. Melalui ruang belajar informal, mereka dapat tumbuh sebagai warga yang mampu bermusyawarah, mengelola perbedaan secara damai, serta mengorganisasi diri untuk memperjuangkan kepentingan kolektif. Praktik-praktik baik inilah yang memperkuat kualitas demokrasi yang lebih sehat dan berkeadilan.
| Info Buku | |
| ISBN | Masih Proses ISBN |
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Jenis Kertas | Book Paper |
| Jumlah Halaman | x+232 hlm |
| Tahun Terbit | 2025 |
Pendidikan Warga sebagai Ko-Kreator Demokrasi
- Yayasan Pustaka Obor Indonesia
- Penulis: Melani Budianta dan Anita Lie (editor)
- Ketersediaan: Tersedia
-
Rp.0
Produk Terkait
Mendesain Intervensi Disleksia yang Sukses: Pendekatan Tal-Id
Disleksia-Perkembangan di Indonesia, Mendesain Int..
Rp.0
Negeri Bujang Tan Domang Etnohistori Orang Petalangan Riau
Inti dari buku ini adalah menjawab kritikan seoran..
Rp.0




