Menjadi tawanan perang bagi banyak orang merupakan mimpi buruk di malam hari. Mimpi yang tidak diharapkan itu dalam kenyataan dialami oleh dua wanita, Safrida dan Soraya. Kedua wanita itu, bersama wartawan RCTI, terperangkap dalam ketegangan di Aceh. Mereka ditangkap GAM, karena dicurigai sebagai mata-mata TNI. Walaupun mereka sudah berusaha menjelaskan kepada GAM bahwa mereka hanya mendampingi wartawan RCTI meliput kegiatan para pengungsi, namun sia-sia saja. Mereka harus ikut pasukan GAM ke hutan. Di hutan Aceh, mereka harus ikut pola hidup rombongan GAM. Hidup di hutan membuat mereka stres karena kebebasan mereka dibatasi. Hidup bebask ketika di rumah tidak ada lagi. Hidup mereka sangat tergantung pada kebaikan anggota GAM.
| Info Buku | |
| ISBN | 979-461-553-6 |
| Dimensi | 14 cm |
| Jenis Cover | Softcover |
| Jenis Kertas | HVS |
| Berat | 280g |
| Jumlah Halaman | 470 halaman |
| Tahun Terbit | 2005 |
| Penerbit | Yayasan Pustaka Obor Indonesia |
Catatan Harian Sandera GAM
- Penulis: Safrida
- Ketersediaan: Tersedia
-
Rp.42.000
Produk Terkait
Negara vs Santet: Ketika Rakyat Berkuasa
Selama satu tahun, Nicholas Herriman tinggal di se..
Rp.65.000
Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II Konflik Lokal
Peristiwa dini hari tanggal 30 September 1965 dapa..
Rp.110.000
Meredam Permusuhan, Memadamkan Dendam: Pelajaran Bina Damai dan Ketahanan Minoritas Keagamaan dari Tasikmalaya dan Bangil
Buku ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pa..
Rp.70.000




