Bagaimana agama, budaya lokal, dan demokrasi dapat saling menguatkan? Mengapa cara beragama yang membawa maslahat menjadi salah satu arah pembangunan Indonesia hingga tahun 2045? Sinopsis ini mengajak pembaca menelusuri hubungan mendalam antara teologi publik, solidaritas kultural, dan pembentukan warga negara yang setara dalam ruang demokrasi. Indonesia menempatkan pembangunan agama sebagai fondasi penting kehidupan berbangsa. Karena itu, konsep beragama maslahat hadir sebagai panduan: cara beragama yang menghadirkan kebaikan bersama, menegakkan keadilan, keberimbangan, kemanusiaan, serta setia pada konstitusi. Agama dipahami bukan sebagai sumber persoalan, tetapi sebagai kekuatan penyembuh—problem solver—yang mendorong kemajuan bangsa dan selaras dengan empat konsensus nasional: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Di sinilah teologi publik mengambil peran. Teologi publik bukan promosi satu ajaran tertentu, melainkan lensa yang menempatkan kepentingan publik, kesetaraan, dan nilai kemanusiaan universal sebagai pusat praktik beragama. Konsep ini mengajak kita melihat bahwa beragama juga berarti berpartisipasi dalam menjaga kebangsaan dan menghidupkan nilai nilai konstitusi. Lebih jauh, buku ini menunjukkan bahwa solidaritas dalam masyarakat Indonesia lahir dari pengetahuan lokal dan praktik budaya yang diwariskan lintas generasi. Ritual panas pela-gandong di Maluku—bersama tradisi-tradisi lain di Nusantara—menjadi contoh bagaimana simbol, cerita, dan kelisanan mampu menciptakan ruang sipil lintas agama yang inklusif. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan mekanisme sosial yang memperkuat kesadaran kewargaan dari akar rumput. Melalui “politik cerita” dan ritual-ritual lokal, masyarakat Indonesia membangun memori bersama tentang penerimaan, kesetaraan, dan keberagaman. Inilah pilar-pilar sipil yang membuat demokrasi Indonesia dapat terus bertahan dan berkembang. Pengetahuan lokal menjadi jembatan antara iman, budaya, dan kehidupan publik —menghasilkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan secara damai dan memperkuat demokrasi yang berkeadilan
| Info Buku | |
| Dimensi | 16x24 cm |
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Jenis Kertas | Book Paper |
| Berat | 200 gram |
| Jumlah Halaman | x+266 hlm |
| Tahun Terbit | 2025 |
| Penerbit | Yayasan Pustaka Obor Indonesia |
Teologi Publik, Solidaritas Kultural dan Demokrasi
- Yayasan Pustaka Obor Indonesia
- Penulis: Musdah Mulia dan Izak Lattu (editor)
- Ketersediaan: Tersedia
-
Rp.0
Produk Terkait
Syekh Zayed bin Sultan Al Nahyan Sang Pendiri Uni Emirat Arab
Markaz Al-Imarat Li Ad-Dirasat Wa Al-Buhuts Al-Ist..
Rp.0
Mendesain Intervensi Disleksia yang Sukses: Pendekatan Tal-Id
Disleksia-Perkembangan di Indonesia, Mendesain Int..
Rp.0



-80x80.jpg)
