Membaca sajak-sajak Irma adalah membaca jejak ingatan yang lurus, tegas namun lembut, panjang, dan jauh. Ingatan yang dipanggil dengan bisik yang sabar. (Eko Endarmoko, penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia)
Bagi Irma Widyani, puisi adalah medium dialog antara pikiran dan perasaannya. Dengan ungkapan yang tak rumit, banyak pertanyaan tentang kesehariannya dilontarkan. Sejumlah jawaban bisa jadi sudah diketahuinya sebagai pilihan-pilihan hidup. Meskipun puisi tak memiliki jenis kelamin, himpunan ini memberi warna tentang perempuan. (Kurnia Effendi, cerpenis, penyair, redaktur majalah Majas)
| Info Buku | |
| ISBN | 978-602-433-898-5 |
| Dimensi | 14 x 20 cm |
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Jenis Kertas | Bookpaper |
| Berat | 100 gram |
| Jumlah Halaman | viii + 90 hlm |
| Tahun Terbit | 2020 |
| Penerbit | Yayasan Pustaka Obor Indonesia |
Produk Terkait
Hidup Matinya Sang Pengarang (edisi revisi)
Esai-esai ini dihadirkan karena perlu dan pen..
Rp.120.000
Di Balik Dinding Penampungan: Kisah Nyata Tenaga Kerja Wanita di Luar Negeri
Novel ini bercerita tentang “Aku” yang mengagungka..
Rp.75.000
Tags: Solitude




